[ Jum'at, 22 Agustus 2008 ]
Belajar Akting, Malah Dianggap Gila Beneran
Ngebahas seni teater tuh nggak bakal ada habisnya. Teater itu punya segmen banyak. Apalagi bagi orang yang masih awam. Mungkin, sepintas seni teater terlihat rumit. Tapi, percaya deh, kalau udah nyangkut, bakal ketagihan buat menggali lebih dalam. Nggak percaya? Aku bisa jadi bukti.
Sebelum jadi aktor, aku termasuk orang yang nggak tertarik dunia seni peran, apalagi nonton seni teater. Nggak deh. Tapi, itu dulu. Sekarang aku termasuk orang yang sangat mencintai dunia seni peran.
Semuanya berawal pada 2000. Saat itu aku masih kuliah. Kegiatanku sehari-hari lebih banyak dihabiskan seperti mahasiwa pada umumnya. Sampai suatu ketika salah seorang temanku mengajak ikutan dalam seni teater. Kebetulan, dia sering berlatih sanggar teater itu. Dia bilang, aku punya potensi.
Awalnya, aku menolak. Namun, daripada saat bengong, mending nyoba saran temanku. Jadilah aku berangkat sore itu bersamanya. Temanku bilang, cukup amati kondisinya dulu.
Nama kelompok tersebut Teater Kawula Muda. Sesuai dengan namanya, semua personel tim itu berisi anak muda. Ada yang pernah dengar?
Waktu nyampai sana, aku langsung kaget. Pikiranku tentang dunia teater yang kaku ternyata salah. Di sana banyak orang-orang seusiaku. Mereka ternyata enjoy dengan apa yang mereka lakukan.
Bahkan, suasananya terkesan menyenangkan meski banyak sekali anak yang bertingkah aneh. Hmmm... kesan awal yang bagus.
Mungkin, karena meninggalkan kesan pertama yang bagus, aku jadi kepincut ke sana lagi. Kali ini aku pergi sendirian. Selama empat bulan di sanggar itu, aku mendapatkan banyak hal dari para pengajar. Terutama, Mas Aditya Gumai yang masih aktif mengajar sampai sekarang. Aku mulai mengenal olah vokal, olah rasa, olah tubuh, perasaan, pembacaaan skenario, pendalaman karakter, dan masih banyak lagi yang berhubungan dengan seni peran. Tanpa aku sadari, itu akhirnya menjadi salah satu bekalku di kemudian hari.
Nah, khusus buat pendalaman karakter, ada satu kisah yang masih kuingat sampai sekarang. Waktu itu aku harus mendalami karakter orang gila. Mungkin, karena terlalu enjoy mendalami, feeling tersebut terus terbawa sampai di luar teater. Orang-orang di sekitarku nganggap aku sinting benaran. Wah, artinya usahaku berhasil dong. He he he...
Nggak lama berselang, usahaku membawa hasil. Aku mulai dilirik untuk ambil bagian pada sebuah rumah produksi. Sekalipun awalnya hanya sebagai figuran, itu sudah cukup. Menurutku, ini merupakan langkah awal yang bagus. Selanjutnya, kalian bisa nilai sendiri, he he he...
Ada satu pesanku untuk kalian yang suka teater, maju terus pantang mundur. Awalnya memang susah. Namun, jika didalami dengan tekun, teater bisa menjadi harta karun kalian di kemudian hari. Nggak percaya? Perhatikan aktor Al Pacino yang mampu membeli sebuah pulau. Luar biasa bukan? He he he... Sukses buat semua yah. (yog/kkn)
Dude Herlino, Artis Sinetron
Kamis, 26 Februari 2009
Dude Herlino
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar